Minggu, 17 Oktober 2010

Pemeriksaan Hemoglobin >.......


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masaalah

Sejalan dengan kemajuan teknologi dalam bidang ilmu kedokteran, di laboratorium telah dikembangkan bermacam-macam alat pemeriksaan yang lebih canggih alat tersebut dapat membantu penegakan diagnosis. Pemantauan perjalanan penyakit, serta pemantauan hasil terapi dengan lebih baik dan teliti. (Hariono, 2006)
Hemoglobin (Hb) adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah.

 
Saat ini pengukuran kadar hemoglobin dalam darah sudah menggunakan mesin otomatis. Selain mengukur hemoglobin mesin ini juga dapat mengukur berbagai macam komponen darah lain. (www.blogdokter.net/2008)
Pemeriksaan hemoglobin dalam darah mempunyai peranan yang penting dalam diagnosa suatu penyakit, karena hemoglobin merupakan salah satu protein khusus yang ada dalam sel darah merah dengan fungsi khusus yaitu mengangkut O2 ke jaringan dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru. Kegunaan dari pemeriksaan hemoglobin ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan pada pasien, misalnya kekurangan hemoglobin yang biasa disebut anemia. Hemoglobin bisa saja berada dalam keadaan terlarut langsung dalam plasma. Akan tetapi kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen tidak bekerja secara maksimum dan akan mempengaruhi pada faktor lingkungan.
Hemoglobin yang meningkat terjadi karena keadaan hemokonsentrasi akibat dehidrasi yang menurun dipengaruhi oleh berbagai masalah klinis. Pemeriksaan hemoglobin dilakukan pengukuran dengan metode cyanmethemoglobin. Sebelumnya eritrosit dilisiskan kemudian heme dioksidasi menjadi cyanmethemoglobin dan diukur dengan fotometer pada panjang gelombang 540 nm.
Jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin tidak selalu meningkat atau menurun bersamaan, sebagai contoh ; penurunan jumlah sel darah merah disertai kadar hemoglobin yang sedikit meningkat atau normal terjadi pada kasus anemia pernisiosa serta kadar sel darah merah yang sedikit meningkat atau normal disertai dengan kadar hemoglobin yang menurun terjadi pada anemia difisiensi zat besi (mikrositik). Pentingnya hemoglobin ini menyebabkan pemeriksaan kadar hemoglobin memegang peranan penting dalam diagnosa suatu penyakit seperti anemia.
Dengan mengabaikan waktu pengukuran tersebut dikawatirkan bisa mendapatkan hasil yang tidak sesuai dikarenakan proses pemeriksaan terlalu singkat mengakibatkan eritrositnya belum dilisiskan maka hasil yang dikeluarkan oleh alat tersebut sangat tinggi. Sesuai prosedur kerja Hb, setelah sampel diperoleh dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, kemudian diinkubasi selama 5 menit dan baca pada fotometer 5010, hal ini diselenggarakan agar eritrosit dalam darah lisis terlebih dahulu kemudian akan bereaksi dengan kalium cianida membentuk cyanmethemoglobin, namun sering kita jumpai di laboratorium petugas sering mengabaikan masa inkubasi, misalnya dalam pemeriksaan Hb, yang seharusnya masa inkubasi 5 menit menjadi berkurang masa inkubasinya dan terkadang pula tampa diinkubasi sampel pemeriksaan Hb langsung dibaca hingga mengeluarkan hasil yang tidak akurat. Hal ini tentunya merugikan pasien dan sebagai seorang analis kesehatan dalam melakukan pekerjaan dibidangnya harusnya melakukan suatu pemeriksaan harus sesuai dengan prosedur kerja yang telah ditetapkan. Pada prosedur kerja menetapkan kadar hemoglobin dibaca setelah inkubasi 5 menit.
Mengetahui pentingnya kadar hemoglobin dalam darah terhadap pencegahan atau penanganan terhadap suatu penyakit terutama yang berkaitan dengan darah. Berdasarkan hal tersebut di atas peneliti tertarik untuk membuat suatu penelitian tentang pemeriksaan hemoglobin menggunakan metode cyanmethemoglobin dengan perbandingan waktu di inkubasi selam 2 menit dan 5 menit.

Rumusan Masalah

Apakah ada perbedaan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit metode cyanmethenmoglobin?

Tujuan Penelitian
Tujuan umum
Untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit metode cyanmethemoglobin.

Tujuan khusus
Untuk menentukan perbedaan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit metode cyanmethemoglobin.

Manfaat Penelitian
Sebagai sumbangan ilmiah dan bahan referensi untuk mahasiswa proram D-III Analis Kesehatan Makassar, terutama pada bidang hematologi.
Sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diterima selama proses pembelajaran.
Hasil penelitian yang diperoleh nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi calon peneliti selanjutnya sebagai tambahan referensi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Tentang Darah.

Pengertian darah

Darah adalah kendaraan atau medium untuk transportasi jarak jauh berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal atau antara sel itu sendiri. Warna merah darah keadaannya tidak tetap bergantung pada banyaknya oksigen dan carbondiosida di dalamnya. Darah yang banyak mengandung CO2 warnanya merah tua. Adanya O2 dalam darah diambil melalui pernafasan, dan zat ini sangat berguna pada peristiwa pembakaran atau metabolisme dalam tubuh. Visikositas atau kekuatan darah lebih kental dari pada air yang mempunyai BJ 1,041 − 1,067, temperatur 38⁰C dan pH 7,37 – 7,45.
Karena darah sangat penting maka harus terdapat mekanisme yang dapat memperkecil kemungkinan kehilangan darah apabila terjadi kerusakan pembuluh darah, trombosit (keping darah) penting dalam hemostasis perhentian pendarahan dari suatu pembuluh darah yang cedera. Darah membentuk sekitar 8% berat tubuh total dan memiliki volume rata-rata 5 liter pada wanita dan 5,5 liter pada laki-laki. (Sherwood L,2001)

Fungsi darah

Untuk memahami fungsi darah hendaknya kita membandingkan keadaan makhluk bersel satu dan bersel banyak. Pada makhluk bersel satu, baik prokariyot maupun eukariyot, segala sesuatunya menyangkut kehidupan sel tersebut dikerjakan oleh sel itu sendiri.
Secara umum fungsi darah adalah sebagai berikut :
Alat transport makanan, yang diserap dari saluran cerna dan diedarkan keseluruh tubuh.
Alat transport O2, yang diambil dari paru-paru atau insang untuk dibawa ke seluruh tubuh
Alat transport bahan buangan dari jaringan kealat-alat ekskresi seperti paru-paru (gas), ginjal, kulit (bahan terlarut dalam air) dan hati untuk diteruskan keempedu dalam saluran cerna sebagai tinja (untuk bahan yang sukar larut dalam air).
Alat transport alat jaringan dari bahan-bahan yang diperlukan oleh suatu jaringan yang dibuat oleh jaringan lain.
Mempertimbangkan keseimbangan dinamis dalam tubuh, mempertahankan suhu tubuh, mengatur keseimbangan distribusi air dan mengatur keseimbangan asam-basa sehingga pH darah dan cairan tubuh tetap dalam keadaan yang seharusnya.
Mempertahankan tubuh dari agregasi benda atau senyawa asing umumnya selau dianggap mempunyai potensi menimbulkan ancaman.
Dengan demikian secara garis besar dapat dikatakan, bahwa fungsi darah adalah sebagai alat transport, alat hemoestasis dan alat pertahanan. Ketiga fungsi tersebut dijalankan berbagai bentuk cara. (Sadikin, 2001)

Tinjauan Umum Eritrosit (sel darah merah)

Eritrosit berbentuk cakram bikonkaf dengan diameter sekitar 8,6µm. Bikonkavitas memungkinkan O2 keluar-masuk sel dengan cepat, dengan adanya jarak yang pendek antara membran dan isi sel. (Gibson J, 2002)
Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria atau ribosom. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis, fosforilasi oksidasi sel, atau pembentukan protein. Sel darah merah mengandung protein hemoglobin yang mengangkut sebagian besar O2 yang diambil dari paru-paru keseluruh tubuh. (Corwin, 2000)
Sel darah merah biasa digambarkan berdasarkan ukuran dan jumlah hemoglobin yang terdapat di dalam sel.
Normositik : sel yang ukurannya normal
Normokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal
Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil
Makrositik : sel yang ukurannya besar
Di dalam eritrosit matang hanya tersisa sedikit enzim yang tidak dapat diperbaharui, enzim-enzim tersebut adalah ; enzim gikolitik dan karbonat anhidrase. Enzim gikolitik penting untuk menghasilkan enzim yang dibutuhkan untuk mejalankan mekanisme transportasi aktif yang hebat dalam pemeliharaan kosentrasi ion di dalam sel. (Sherwood L, 2001)
Fungsi utama sel darah merah adalah untuk mentransport hemoglobin, yang selanjutnya membawa O2 dari paru-paru kejaringan. Pada laki-laki normal jumlah rata-rata sel darah merah permilimeter kubik = 5.200.000 dan wanita normal = 4.700.000 juga sebaliknya ketinggian tempat hidup atau tempat tinggal mempengaruhi jumlah sel darah merah. (Guyton, 1990)
Sel darah merah di dalam tubuh dibuat dalam sum-sum tulang merah, limpa dan hati, yang kemudian akan beredar di dalam tubuh selama 14 - 15 hari, setelah itu mati. (Syaifudin, 2006)

Tinjauan Umum Tentang Hemoglobin

Definisi hemoglobin
Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru-paru keseluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah.
Saat ini pengukuran kadar hemoglobin dalam darah sudah menggunakan mesin otomatis selain mengukur hemoglobin mesin pengukur akan memecah hemoglobin menjadi sebuah larutan. Hemoglobin dalam larutan ini kemudian dipisahkan zat lain dengan menggunakan zat kimia bernama nilai sinar yang berhasil diserap oleh hemoglobin. (www.Blogdoter.net. 2008)
Hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel darah merah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari : globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi. 

Fungsi hemoglobin
Fungsi hemoglobin dalam darah adalah :
Mengatur pertukaran oksigen dengan karbondioksida di dalam jaringan tubuh.
Mengambil oksigen dari paru-paru kemudian dibawa keseluruh jaringan tubuh untuk dipakai sebagai bahan baku.
Membawa carbondioksida dari jaringan tubuh sebagai hasil metabolisme ke paru-paru untuk dibuang.
Untuk mengetahui apakah seseorang kekurangan darah atau tidak dapat diketahui dengan pengukuran kadar Hb. Penurunan kadar Hb dari normal berarti kekurangan darah. Kekurangan darah berarti anemia. Selain kekurangan Hb juga disertai dengan eritrosit yang berkurang serta nilai hematokrit dibawah normal. (Kresno, 1988)

Jenis - jenis hemoglobin (Hb)
Pada manusia telah dikenal kurang dari 14 macam Hb yang dipelajari secara mendalam dengan bantuan elektrokoresis. Hb diberi nama dengan simbol alfabeta misalnya ; Hb A, Hb C, Hb D, Hb E, Hb F, Hb G, Hb I, Hb M, Hb S, dan sebagainya. (Joice, 2008)
Kadang-kadang Hb diberi nama menurut kota tempat ditemukan jenis Hb atau orang yang menemukannya, misalnya ; Hb New York, Hb Sydney, Hb Bart, Hb Gower, dan lain-lain. Hb A (Adult Dewasa) mulai diproduksi pada usia 5 - 6 bulan kehidupan intrauterine janin, pada usia 6 bulan postnatal kosentrasi Hb A 99%. Hb A terdiri dari 2 rantai α dan 2 rantai β. Hb F (Foetus janin) mulai ditemukan dalam darah pada minggu ke dua puluh usia kehamilan. Pada bayi Hb F dan sebelum usia 2 tahun jumlah tinggal sedikit, diganti oleh Hb A. Karena sifatnya yang resisten terhadap alkali, Hb F ini mudah dipisahkan dari Hb A. Hb F terdiri dari 2 rantai α dan 2 rantai T.

Sintesis hemoglobin
Fungsi utama sel darah merah adalah mengangkut O2 ke jaringan dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru. Untuk mencapai pertukaran gas ini, sel darah merah mengandung protein khusus, yaitu hemoglobin dan setiap hemoglobin dewasa normal (Hb A) terdiri atas empat rantai polipeptida α2 β2, masing-masing dengan gugus haemnya sendiri. Berat molekul Hb A adalah 68.000 darah dewasa normal juga berisi jumlah kecil dua hemoglobin lain, Hb F dan Hb A2 yang juga mengandung rantai y dan rantai s masing-masing sebagai pengganti β. 65% hemoglobin disintesis dalam eritroblas dan tiga puluh lima persen hemoglobin disintesis pada stadium retikulosit. Sintesis haem, terjadi banyak dalam mitokondria oleh sederet reaksi biokimia yang dimulai dengan kondensasi glisin dan suksinil. Koenzim A dibawah aksi enzim kunci data-amino laevulinic acid (Ala) sintase yang membatasi kecepatan. Pridoksal fosfat (Vitamin B) adalah koenzim untuk reaksi ini yang diransang oleh eritro protein dan dihambat oleh hacm. Akhirnya protoporfirin bergabung dengan besi untuk membentuk hacm yang masing-masing molekulnya bergabung dengan rantai globin yang terbuat pada poliribosom. Kemudian tetramer empat rantai globin dengan masing-masing gugus hacmnya sendiri terbentuk dalam “kantong” untuk membangun molekul hemoglobin. (Hoffbrand, 2005)

Struktur hemoglobin
Pada pusat molekul terdapat cincin heterosiklik yang dikenal dengan porifin yang menahan satu atom besi. Atom besi ini merupakan situs/lokal ikatan oksigen. Porifin yang mengandung besi disebut heme. Nama hemoglobin merupakan gabungan dari heme dan globin. Globin sebagai istilah generik untuk protein globural. Ada beberapa protein mengandung heme, dan hemoglobin adalah yang paling dikenal dan paling banyak dipelajari.
Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 subunit protein), yang terdiri dari masing-masing dua sub unit mirip secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap sub unit memiliki berat molekul ± 16,000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya menjadi sekitar 64,000 Dalton. Tiap sub unit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga secara keseluruhan hemoglobin memilki kapasitas empat molekul oksigen. (Hariono, 2006 )

Gambar 1.1, Struktur Hemoglobin
(Sumber : Hoffbrand, 1995)

Tinjauan Umum Tentang Pemeriksaan Hemoglobin
Penetapan kadar hemoglobin ditentukan dengan bermacam-macam cara dan yang banyak dipakai di laboratorium klinik ialah cara fotoelektrit dan kolorimetrik visual.

Cara sahli
Prinsip hemoglobin diubah mejadi asam hematin, kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standar dalam alat itu. Cara Sahli banyak dipakai di Indonesia, walau cara ini tidak tepat 100%, mengalami kurang darah atau darahnya masih normal, pada pemeriksaan ini factor kesalahan kira-kira 10%, kelemahan cara ini berdasarkan kenyataan bahwa asam hematin itu bukanlah merupakan larutan sejati dan juga alat hemoglobimeter itu sukar distandarkan, selain itu tidak semua macam hemoglobin dapat diubah hematin misalnya ; karboxyhemoglobin, methemoglobin, sulfahemoglobin.

Cara cyanmethemoglobin
Prinsipnya adalah hemoglobin diubah menjadi cyanmethemoglobin dalam larutan drabkin yang berisi kalium sianida dan kalium ferisianida. Absorbensi larutan diukur pada panjang gelombang 540 nm. Larutan drabkin yang dipakai untuk mengubah hemoglobin, oxyhemoglobin, methemoglobin, dan karboxymoglobin menjadi cyanmethemoglobin, sedang sulfhemoglobin tidak berubah karena tidak diukur. Cara ini sangat bagus untuk laboratorium rutin dan sangat dianjurkan untuk penetapan kadar hemoglobin dengan teliti karena standar cyanmethemoglobin yang ditanggungkan kadarnya stabil dan dapat dibeli. Larutan drabkin teridri atas natrium bikarbonat 1 gram, kalium sianida 50 mg, kalium ferisianida 200 mg, aqudest 100 ml. (Dian Rakyat, 2006)

Cara tallquist
Prinsipnya adalah membandingkan darah asli dengan suatu skala warna yang bertingkat-tingkat mulai dari warna merah muda sampai warna merah tua.
Cara ini hanya mendapatkan kesan dari kadar hemoglobin saja, sebagai dasar diambil darah = 100% = 15,8 gr hemoglobin per 100 ml darah. Tallquist mempergunakan skala warna dalam satu buku mulai dari merah muda 10% di tengah-tengah ada lowong dimana darah dibandingkan dapat dilihat menjadi darah dibandingkan secara langsung sehingga kesalahan dalam melakukan pemeriksaan antara 25-50%.

Cara sulfat
Cara ini dipakai untuk menetapkan kadar hemoglobin dari donor yang diperlukan untuk transfuse darah. Hasil dari metode ini adalah persen dari hemoglobin. Perlu diketahui bahwa kadar hemoglobin cukup kira-kira 80% hemoglobin. Kadar minuman ini ditentukan dengan setetes darah yang tenggelam dalam larutan kufrisulfat dengan berat jenis. (Bakri S, 1989)
Kesalahan dalam pemeriksaan Hb
Hemolisis darah.
Obat dapat meningkatkan dan menurunkan kadar hemoglobin.
Mengambil darah dari lengan yang terpasang cairan invus dapat mengencerkan sampel darah.
Membiarkan turniket terpasang terlebih dahulu lebih dari satu menit akan menyebakan hemokosentrasi.
Tinggal di daratan tinggi dapat menyebakan peningkatan kadar hemoglobin.
Penurunan asupan cairan atau kehilangan cairan akan meningkatkan kadar Hb dan kelebihan asupan cairan akan mengurangi kadar Hb. (Kee.L.j, 2007)

Faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin
Hal-hal yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hemoglobin, antara lain sebagai berikut :

Reagen
Reagen adalah bahan pereaksi yang harus selalu baik kualitasnya mulai dari saat penerimaan, semua reagen yang dibeli harus harus diperhatikan nomor lisensi kadaluarsanya, keutuhan wadah atau botol atau cara transportasinya.

Metode
Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang mengikuti perkembangan metode pemeriksaan dengan pertimbangan kemampuan laboratorium tersebut dan biaya pemeriksaannya. Petugas laboratorium harus senantiasa bekerja dan mengacu pada metode yang digunakan.

Bahan pemeriksaan
Bahan pemeriksaan meliputi ; cara pengambilan specimen, pengiriman specimen, penyimpanan specimen, dan persiapan sampel.
Lingkungan
Dalam hal ini dapat berupa ; keadaan ruang kerja, cahaya, suhu kamar, kebisingan, luas dan tata ruang

Tenaga labratorium.
Dalam hal ini yang diharapkan adalah petugas laboratorium harus mengusai alat dan teknik dibidang laboratorium

Sampel
Kekeruhan dalam suatu sampel darah dapat mengganggu dalam fotokolorimeter dan menghasilkan absorbensi dan kadar Hb yang lebih tinggi dari yang sebenarnya. Kekeruhan semacam ini dapat disbabkan antara lain oleh leukositosis, lipemia, dan adanya globulin abnormal seperti pada macro iobulinemia. (Dian Rakyat, 2006)

Susunan darah diambil untuk pemeriksaan bisa saja berubah salah satu tindakan waktu mengambil darah itu. Sebagai seorang analis kesehatan sebelum melakuan suatu pemeriksaan maka perlu memperhatikan kesalahan-selahan yang mungkin biasa terjadi seperti disebut dibawah ini
Mengambil darah dari tempat yang menyatakan adanya gangguan peredaran seperti pucat
Tusukan kurang dalam sehingga darah harus diperas-peras keluar
Kulit yang diusuk masih basah alcohol
Tetesan darah pertama dipakai untuk pemeriksaan
Terjadi bekuan dalam tetesan darah karena terlalu lambat bekerja
Sumber keselahan dalam memperoleh darah
Menggunakan semprit dan jarum yang basah
Mengenakan ikatan pembendung terlalu lama atau terlalu keras
Terjadi bekuan dalam semprit karena lambatnya bekerja
Terjadi bekuan dalam botol oxalate karena tidak dicampur semestinya dengan oxalate kering atau antikoagulan.

Tinjaun tentang pemeriksaan hemoglobin
Ada beberapa metode untuk mengukur hemoglobin dan kebanyakan dari mereka sekarang yang dilakukan oleh mesin yang dirancang untuk melakukan beberapa tes darah. In these machines, the red blood cells are broken down to get the hemoglobin into a solution. Dalam mesin ini, sel-sel darah merah dipecah untuk mendapatkan hemoglobin menjadi sebuah solusi. The free hemoglobin is exposed to some specific chemicals that contain cyanide which binds tightly with the hemoglobin molecule to form cyanmethemoglobin. Hemoglobin bebas terkena bahan kimia tertentu yang mengandung sianida yang mengikat erat dengan molekul hemoglobin untuk membentuk cyanmethemoglobin. By shining a light through the solution and measuring how much light is absorbed, the amount of hemoglobin can be determined. Dengan menyorotkan cahaya melalui solusi dan mengukur seberapa banyak cahaya yang diserap, jumlah hemoglobin dapat ditentukan.

Terdapat bermacam-macam cara untuk menetapkan kadar hemoglobin tetapi yang sering dikerjakan dilaboratorim adalah yang berdasarkan kolorimetrik visual cara sahli dan fotoelektrik cyanmethemoglobin.
Cara cyanmethemoglobin adalah cara yang dianjurkan ntuk penetapan kadar hemoglobin di laboratorium karena larutan standar cyanmethemoglobin sifatnya stabil, mudah diperoleh dan pada cara ini hampir semua hemoglobin terukur kecuali sulfhemoglobin. Pada cara ini ketlitian yang dapat dicapai ± 2%.
Berhubung ketelitian masing-masing cara berbeda, untuk penilaian hasil sebaiknya diketahui cara mana yang dipakai. Nilai rujukan kadar hemoglobin tergantung dari umur dan jenis kelamin.
Pada bayi baru lahir, kadar hemoglobin lebih tinggi dari pada orang dewasa yaitu berkisar antara 13,6 -- 19,6 g/dl. Kemudian kadar hemoglobin menurun dan pada umur 3 tahun dicapai kadar paling rendah yaitu 9,5 -- 12,5 g/dl. Setelah itu secara bertahap kadar hemoglobin naik dan pada pubertas kadarnya mendekati kadar pada dewasa yaitu berkisar antara 11,5 -- 14,8 g/dl. Pada pria dewasa kadar hemoglobin berkisar antara 13 -- 16 g/dl sedangkan pada wanita dewasa antara 12 - 14 g/dl. 

Tinjaun umum tentang fotometer 5010
Fotometer 5010 adalah salah satu jenis spektrofotometer yang merupakan suatu instrument untuk transmilitan atau absorbans dari suatu contoh fungsi panjang gelombang. Prinsipnya dari spektrofotometer adalah banyak zat yang menyerap cahaya dalam wilayah spectrum yang dapat dilihat atau spectrum ultra violet.

Sumber cahaya
Sumber cahaya termasuk radiasi optic yang ideal untuk pengukuran serapan harus menghasilkan spectrum kotinyu dengan intensitas seragam pada keseleruhan kisaran panjang. Gelombang yang sedang dipelajari. Sumber cahaya dapat berupa lampu halogen deuterium.

Monokromator
Dalam spektrofotometer radiasi polikromatik, merupakan serangkaian alat opticyang menguraikan radiasi polikromatik yang menjadi jalur-jalur yang efektif dan panjang gelombang tunggal. Ada 2 macam gelombang monokromator yang di kenal berdasarkan jenis penyerapan yaitu yang berdasarkan efek penyerapan atau transmisi menggunakan filter dan yang berdasarkan efek peguraian atau disperse cahaya menggunakan prisma dan gratng.

Kuvet
larutan di letakkan dalam sel atau kuvet. Untuk datetra variabel digunakan gelas biasa atau quarts. Kuvet untuk larutan mempunyai panjang sekitar 10 cm. sebelum kuvet dipakai harus di bersihkan dengan air suling atau dicuci dengan larutan asam koromat. 

Detector
Detector penyerap tenaga foton yang mengenai cuplikan dan mengubah tenaga tersebut untuk di ukur secara kuantitatif seperti sebagai arus listrik atau perubahan-perubahan panas. Kebanyakan detector menghasilkaan sinyal lisrik yang dapat mengaktifkan meter atau pencatat.
Pada pengukuran hemoglobin metode cyanmethemoglobin digunakan photometer 5010 5V+ type semi-automatik dengan sumber cahayanya adalah lampu hologen, daerah panjang gelombang yang dapat terukur 340 nm – 800 nm, monokromatornya adalah filter, system kuvat adalah single-baem, volume sampel dapat diukur minimum 250 µl. 

Cara kerja kalibrasi
Ketepatan pengukuran absorban
Ketepatan panjang gelombang
Dengan warna sinar
Dengan lampu deuterium
Dengan filter didinium atau holmium okside
Dengan standar filter bersertifkat
Lineritas alat pemeriksaan dilakukan dengan
Larutan kalium bikromat
Larutan colbat ammonium sulfat untuk daerah panjang gelombang lebih dari 400 nm
Filtrate standar bersertifikat yang telah diketehui persen T pada panjang gelombang tertentu
Stray light (Kalibrasi dilakukan dengan beberapa cara)
Larutan sodium iodide
Gelas coming victor
Standar filter bersertifikat 

Kerangka Pikir

Heme merupakan senyawa non protein yang tersusun dari suatu senyawa lingkar yang bernama profin yang sebagai pusatnya ditempati oleh logam besi, jadi heme adalah suatu profin besi. Sedangkan globin adalah suatu senyawa protein yang menentukan afinitas antara atom besi heme dengan oksigen, kemudian dari heme dan globin tersusun membentuk hemoglobin. Kadar hemoglobin tidak selalu normal, pada kasus kadar hemoglobin yang tinggi abnormal terjadi karena hemokosentrasi akibat dehidrasi (kehilangan cairan) dan kadar hemoglobin yang rendah berkaitan dengan masalah klinis. Adanya masalah yang terjadi pada kadar hemoglobin maka dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin itu sendiri dengan menggunakan metode yang dianggap paling akurat. Dalam hal ini digunakan metode cyanmethemoglobin.



Hipotesa 

Ho : Tidak ada perbedaan yang bermakna dari hasil pemeriksaan hemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit metode cyanmethemoglobin.
Ha : Ada perbedaan yang bermakna dari hasil pemeriksaan hemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit metode cyanmethemoglobin.





BAB III
METODE PENELITIAN
Jenis Peniltian
Penelitian ini merupakan penelitian observasi laboratorium untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit metode cyanmethemoglobin.
Alur Penelitian


Populasi Dan Sampel

Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang melakukan pemeriksaan darah rutin di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kab. Gowa.

Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang melakukan pemeriksaan Hb di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kab. Gowa sebanyak 15 orang aksidental sampling.

Variable Penelitian

Variabel bebas
Pemeriksaan kadar hemoglobin metode cyanmethemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit.

Variabel terikat
Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin metode cyanmethemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit.

Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2010.
Lokasi penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kab.Gowa.

Definisi Operasional
Inkubasi 2 menit adalah darah dicampur dengan reagen kemudian didiamkan 2 menit lalu dibaca dengan fotometer.
Inkubasi 5 menit adalah darah dicampur dengan reagen kemudian didiamkan 5 menit lalu dibaca dengan fotometer.
Hemoglobin adalah zat yang berwarna merah pada sel darah merah yang membawa oksigen ke jaringan tubuh.
Darah adalah suatu cairan tubuh yang kental dan berwarna merah
Metode cyanmethemoglobin adalah suatu metode pemeriksaan kadar hemoglobin dengan menambahkan ion sianida untuk menghasilkan produksi mencapai keadaan serupa.
Fotometer yang digunakan adalah fotometer 5010
Pengumpulan Data
Pada pemeriksaan kadar hemoglobin diperlukan ketelitaian dalam pemeriksaan, oleh karena itu diperlulkan data yang akurat, dan data tersebut meliputi :
Metode
Cyanmethemoglobin
Prinsip
Hemoglobin yang dilepaskan akibat lisis eritrosis akan bereaksi dengan kalium sianida membentuk campuran cyamethemoglobin kromogenik yang kemudian diukur dengan fotometer 5010.
Alat
Fotometer 5010, tabung reaksi, spoit, rak tabung, penutup tabung.
Bahan
Sampel darah, aquades, EDTA, kapas alcohol 70%, larutan drabkin.
Cara pemeriksaan hemoglobin inkubasi 2 menit
Kedalam tabung reaksi dimasukkan 5,0 ml larutan drabkin.
Dengan pipet hemoglobin diambil 20 µl darah (vena) sebelah luar ujung pipet dibersihkan, lalu darah itu dimasukkan kedalam tabung reaksi dengan membilasnya beberapa kali.
Campur isi tabung dengan cara membalikkannya beberapa kali. Tindakan ini juga akan menyelenggarakan perubahan hemoglobin menjadi cyanmethemoglobin.
Bacalah dalam fotometer 5010 pada panjang gelombang 540 nm, sebagai blanko digunakan larutan drabkin.
Kadar hemoglobin ditentukan dari perbandingan absorbansinya dengan absorbansi standar cyanmethemoglobin.
Batas Normal Kadar Hemoglobin (www.blogdokter.net/2008)
Bayi baru lahir : 17-22 g/dl
Umur 1 minggu : 15-20 g/dl
Umur 1 bulan : 11-15 g/dl
Anak anak : 11-13 g/dl
Lelaki dewasa : 14-18 g/dl
Perempuan dewasa : 12-16 g/dl
Lelaki tua : 12.4-14.9 g/dl
Perempuan tua : 11.7-13.8 g/dl

Pembahasan
Hemoglobin terdiri atas zat besi yang merupakan pembawa oksigen. Jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin tidak selalu meningkat atau menurun bersamaan, sebagai contoh ; penurunan jumlah sel darah merah disertai kadar hemoglobin yang sedikit meningkat atau normal terjadi pada kasus anemia pernisiosa serta kadar sel darah merah yang sedikit meningkat atau normal disertai dengan kadar hemoglobin yang menurun terjadi pada anemia difisiensi zat besi (mikrositik). (Joyce, 2008).
Pemeriksaan kadar hemoglobin sangat penting dilakukan dalam menegakan diagnosa dari suatu penyakit, sebab jumlah kadar hemoglobin dalam setiap sel darah akan menentukan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh tubuh.
Pemeriksaan hemoglobin terdiri atas beberapa metode ; Metode Sahli. Metode Kuprisulfat, Metode Tallsquit, dan Metode Cyanmethemoglobin,, dari keempat macam metode di atas yang paling populer atau banyak digunakan adalah metode cyanmethemoglobin, karena praktis atau mudah dikerjakan serta ketelitiannya lebih baik dai pada tiga metode diatas.
Dengan mengabaikan masa inkubasi dikawatirkan bisa mendapatkan hasil yang tidak sesuai dikarenakan proses pemeriksaan terlalu singkat mengakibatkan eritrositnya belum dilisiskan maka hasil yang dikeluarkan oleh alat tersebut sangat tinggi. Sesuai prosedur kerja Hb, setelah sampel dicampur dengan reagen drabskin, kemudian diinkubasi selama 5 menit dan baca pada fotometer 5010, hal ini diselenggarakan agar eritrosit dalam darah lisis terlebih dahulu kemudian akan bereaksi dengan kalium cianida membentuk cyanmethemoglobin, namun sering kita jumpai di laboratorium petugas sering mengabaikan masa inkubasi, misalnya dalam pemeriksaan Hb yang seharusnya masa inkubasi 5 menit terkadang tampa diinkubasi sampel pemeriksaan Hb langsung dibaca hingga mengeluarkan hasil yang tidak akurat.
Berdasarkan hasil penelitian pada tanggal 9 Juni 2010 perbandingan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit , terdapat perbedaan namun perbedaan tersebut tidaklah bermakna, dikarenakan nilai perbedaan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin 2 menit dan 5 menit hanya mencapai 0 – 0,3 g/dl, namun setelah dilakukan uji statistic dipatkan hasil perbedaan tidak bermakna pada perbadingan pemeriksaan kadar hemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit metode cyanmethemoglobin. Hal ini tentunya tidak sesuai teori yang telah ada sebelumnya, ini terjadi dikarena pengaruh jumlah sampel yang diteliti oleh peneliti tidak sebayak dengan jumlah sampel yang telah diteliti oleh peneliti sebelumnya. Maka pemeriksaan kadar hemoglobin metode cyanmethemoglobin dianjurkan harus diinkubasi 5 menit sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Sumber kesalahan yang mungkin terjadi dalam hasil pemeriksaan kadar hemoglobin metode cyanmethemoglobin adalah satatis vena pada waktu pengambilan darah menyebabkan kadar hemoglobin tinggi dari seharusnya, sebaliknya kontaminasi cairan jaringan menyebabkan kadar hemoglobin rendah dari seharusnya, begitu juga dengan pemakaian antikoagulan yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin, terjadi bekuan darah, darah yang lipemik dapat menyebabkan kadar hemoglobin tinggi dari pada seharusnya, adanya leukositas berat menyebabkan kadar hemoglobin tinggi dari pada seharusnya, penggunaan reagen yang sudah tidak baik atau kadaluarsa, volume pemipetan yang kurang tepat, darah kurang atau lebih dari 20 µl maupun saat pemipetan reagen drabskin kurang atau lebih dari 5,0 ml, masa inkubasi yang berkurang menyebabkan eritrosit belum lisis hingga tidak bereaksi sempurana dengan kalium sianida menyebabkan kadar hemoglobin tinggi dari pada seharusnya, penggunaan fotometer 5010 yang kurang baik misalnya panjang gelombang yang tidak tepat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian perbandingan hasil kadar hemoglobin inkubasi 2 menit dan 5 menit metode cyanmethemoglobin pada pasien di RSUD Syekh Yusuf Kab. Gowa, maka disimpulkan tidak ada perbedaan yang bermakna dimana t hitung (1,95618) < t tabel (2,145) pada batas kepercayaan 95% (α = 0,05).
Saran
Disarankan pemeriksaan kadar hemoglobin inkubasi 2 menit metode cyanmethemoglobin bisa digunakan jika hasil pemeriksaan harus segera dikeluarkan dan jika tidak terburu-buru baiknya diinkubasi sampai 5 menit untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.





DAFTAR PUSTAKA
Anonym. 2008. Petunjuk kerja Laboratorium RSUD Gowa
Anonym. 2000. “ Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Sederhana “ esdisi 2 FKIU Jakarta.
Corwin. 2000. Berorientasi Pada kasus Klinik. Penerjemah H. K Nutojo dalam catatan Kuliah Hematologi . Jakarta ECG.
Gandasoebrata R. Penuntun Laboratorium Klinik, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta.
Gibson J. 2002. Fisiologi Dan Anatomi Modern Untuk Perawat. Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Hardjoeno H. 2003. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Dianognostik. Hasanuddin Universitas Press. Makassar.
Kee L. J. 1997.Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnosis Dengan Implikasi Keperawatan. EGC, Jakarta.
Kee L. J. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diognostik. Edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Poter & Perry. 2005. Patofisiologi Konsep Klikniks Proses-proses Penyakit, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sadikin, Mohammad.H, 2001, Biokimia Darah, Penerbit Widya Midika, Jakarta
Sherwood L, 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Suriadi, 2003, Metode Hematologi, dalam Tinjauan Klinik Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Jakarta, Penerbti Buku Kedokteran, EGC edisi 11. Hal :21
Syaifudin, 2006, Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi 3, Penerbit Buku Kewdsokteran EGC, Jakarta
www.blogdokter.net/2008/06/130/hemoglobin/diakses pada tanggal 19/01/2010.
www.hemoglobin-wikipedia-bahasa-indonesia,com/diakses pada tanggal 19/01/2010.
www.laboratorium kesehatan :antikoagulan.com/diakses pada tanggal 19/01/2010.
http://www.tempo.co.id/medika/arsip/082001/her-1.htm, Hariono/diakses pada tanggal 01/04/2009.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

mari belajar bersama