Senin, 24 September 2012

KESADARAN BERAGAMA DAN PENGALAMAN BERAGAMA


BAB I
PENDAHULUAN

Psikologi agama memang sangatlah penting bagi kita, karena di dalamnya terkandung materi-materi yang begitu penting, salah satunya adalah kesadaran beragama dan pengalaman beragama. Dan materi tersebut akan dibahas pada makalah ini.
Kesadaran beragama merupakan hasil proses mengenai motivasi yang berpengaruh tehadap penilaian, keputusan, dan interaksi dengan orang lain. Sedangkan pengalaman beragama merupakan perasaan yang membawa keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan. Pengalaman tersebut biasanya terjadi dalamkeinginan seseorang manusia untuk menyembah tuhan dan untuk berdoa walaupun pengalaman tersebut tidak terbatas dalam waktu-waktu tertentu, misalnya berdoa, waktu shalat, dan sebagainya.
Materi tersebut akan dijelaskan lebih jauh lagi dalam makalah ini. Untuk itu, mari kita kaji materi tersebut bersama.


BAB II
PEMBAHASAN
1.             Kesadaran Beragama
a.             Pengertian Kesadaran Beragama
Kesadaran beragama adalah rasa keagamaan, pengalaman ketuhanan, keimanan, sikap dan tingkah laku keagamaan yang terorganisasi dalam sikap mental dari kepribadian. Karena agama melibatkan seluruh fungsi jiwa raga manusia maka kesadaran beragama pun mencakup aspek-aspek kognitif dan psikomotorik.1
Kesadaran diri merupakan kondisi dari hasil proses mengenai motivasi, pilihan dan kepribadian yang berpengaruh terhadap penilaian, keputusan, dan interaksi dengan orang lain.2
Dalam Canbridge International Dictionary Of English (1995) ada sejumlah definisi tentang kesadaran. Kesadaran diartikan sebagai kondisi terjaga atau mampu mengerti apa yang sedang terjadi ( the condition of being awake or able to understand what is happening).3
Kesadaran beragama merupakan bagian atau segi yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi atau dapat dikatakan bahwa ia adalah aspek mental dan aktivitas ( Zakiah Daradjad, 1990: 3-4). Jalaludin (2007: 106) menyatakan bahwa kesadaran orang untuk beragama merupakan kemantapan jiwa seseorang untuk memberikan gambaran tentang bagaimana sikap keberagamaan mereka. Pada kondisi ini, sikap keberagamaan orang sulit untuk diubah, karena sudah berdasarkan pertimbangan dan pemikiran yang matang. Sedangkan menurut Abdul Aziz Ahyadi (1988:45), kesadaran beragama meliputi rasa keagamaan, pengalaman ketuhanan, keimanan, sikap, dan tingkah laku keagamaan, yang terorganisasi dalam sistem mental dari kepribadian. Keadaan ini dapat dilihat melalui sikap keberagamaan yang terdefernisasi yang baik, motivasi kehidupan beragama yang dinamis, pandangan hiduup yang komprehansif, semangat pencarian dan pengabdiannya kepada Tuhan, juga melalui pelaksanaan ajaran agama yang konsisten, misalnya dalam melaksanakan shalat, puasa, dan sebagainya ( Abdul Aziz, 1988: 57).4
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kesadaran baragama merupakan sesuatu yang terasa, dapat diuji melalui introspeksi dan keterdekatan dengan sesuatu yang lebih tinggi dari segalanya, yaitu Tuhan.
Kesadaran beragama merupakan dasar dan arah dari kesiapan seseorang mengadakan tanggapan, reaksi, pengolahan, dan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang datang dari luar. Kesadaran akan norma-norma agama berarti individu menghayati, menginternalisasi, dan mengintegrasikan norma tersebut kedalam diri pribadinya. Penggambaran tentang kemantapan kesadaran beragama atau religius tidak dapat terlepas dari kriteria kematangan kepribadian. Kesadaran beragama yang mantap hanya terdapat pada orang yang memiliki kepribadian yang matang, akan tetapi kepribadian yang matang belum tentu disertai dengan kesadaran beragama yang mantap.
Kesadaran yang mantap merupakan suatu disposisi dinamis dari sistem mental yang terbentuk melalui pengalaman serta diolah dalam kepribadian untuk mengadakan tanggapan yang tepat konsepsi pandangan hidup, penyesuian diri dan bertingkah laku. Kesadaran beragama merupakan dasar dan arah dari kesiapan seseorang mengadakan tanggapan, reaksi, pengolahan dan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang datang dari dunia luar. Kepribadian yang tidak matangmenunjukkan kurangnya pengendalian terhadap dorongan biologis, keinginan, aspirasi, dan hayalan-hayalan. Kepribadian yang tidak matang kurang mampu melihat dirinya sendiri, sehingga perilakunya kurang memperhitungkan kemampuan diri dan keadaan lingkungan sekitarnya.
Kesadaran norma agama berarti individu menghayati, menginternalisasi dan mengintegrasikan norma tersebut ke dalam diri pribadinya sehingga menjadi bagian dari hati dan kepribadiannya. Penghayatan noma agama mencakup hubungan dengan tuhan, hubungan masyarakat dangan dan lingkungan.
Dengan memiliki kesadaran agama yang mantap pada penyandang cacat tubuh dapat menunjukkan kematangan sikap dalam menghadapi berbagai masalah, norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat terbuka terhadap semua realitas atau fakta empiris, filosofis, rohaniah, dan mempunyai arah tujuan yang jelas dalam cakrawala hidup walau dalam keterbatasan fisik.
b.            Ciri-Ciri Kesadaran Beragama
Ciri-ciri kesadaran beragama yang menonjol pada masa remaja yang diutarakan oleh Abdul Aziz Ahyadi antara lain:5
a.             Pengalaman Ketuhanannya makin Bersifat Individual.
Remaja menemukan dirinya bukan hanya sekedar badan jasmaniah, tetapi merupakan suatu kehidupan psikologis rohaniah berupa “ pribadi”. Remaja bersifat kritis, terhadap dirinya sendiri dan segala sesuatu yang menjadi milik pribadinya. Ia menemukan pribadinya terpisah dari pribadi lain dan alam sekitarnya. Pemikiran, perasaan, keinginan ciri-ciri dan kehidupan psikologis rohaniah lainnya adalah milik pribadinya. Penghayatan penemuan diri pribadi ini dinamakan “individuasi”.
Penemuan diri pribadinya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri menimbulkan rasa kesepian dan rasa terpisah antara diri pribadinya. Dalam rasa kesendiriannya, si remaja memerlukan priabadi yang mampu menampung keluhannya, melindungi, membimbing, mendorong dan memberi petunjuk jalan yang dapat mengembangkan kepribadiannya. Ia berusaha mencari hakikat, makna dan tujuan hidupnya. Remaja dapat menemukan berbagai macam pandangan, ide, dan filsafat hidup yang mungkin bertentangan dengan keimanan yang telah menjadi pribadinya. Hal ini dapat menimbulkan kebimbangan dan konflik batin yang merupakan suatu penderitaan.
b.            Keimanannya makin menuju realitas yang sebenarnya, dan Peribadahannya mulai disertai dengan penghayatan yang tulus.
Remaja mulai mengerti bahwa kehidupan ini tidak hanya seperti yang dijumpainya secara konkret, tetapi mempunyai makna yang lebih dalam. Ia mulai memilki pengertian yang diperlukan untuk menangkap dan mengolah dunia rohaniah. Ia menghayati dan mengetahui tentang agama dan makna kehidupan beragama.Ia melihat adanya berbagai macam filsafat dan pandangan hidup. Hal ini dapat menimbulkan usaha untuk menganalisis pandangan agamanya serta mengolahnya dalam perspektif yang lebih luas dan kritis, sehingga pandangan hidupnya menjadi lebih otonom. Dengan berkembangnya kemampuan berfikir secara abstrak, remaja mampu pula menerima dan mempelajari agama. Yang berhubungan dengan masalah gaib, abstrak dan rohaniah, seperti kehidupan alam kubur, hari kebangkitan, surga, neraka bidadari, malaikat, jin syetan dan sebagainya. Penggambaran antropomorphic atau memanusiakan tuhan dan sifat-sifatNya lambat laun diganti dengan pemikiran yang lebih sesuai dengan realitas. Pemahaman perubahan itu melalui pemikiran yang lebih kritis. Pengertian tentang sifat-sifat tuhan seperti maha adil, maha mendengar, maha melihat, dan sebagainya, yang tadinya oleh remaja disejajarkan dengan sifat-sifat manusia berubah menjadi lebih abstrak dan lebih mendalam.
c.             Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesadaran beragama
Kesadaran beragama merujuk pada aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keyakinan dan keimanan kepada Allah.dan pengaktualisasiannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berhubungan dengan sesama manusia atau yang berhubungan dengan Allah. Keyakinan dan keimanan kepada Allah dan aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari merupakan hasil dari internalisasi, yaitu proses pengenalan, pemahaman dan kesadaran seseorang terhadap agama. Proses ini akan terbentuk dengan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1.             Faktor Internal
Menurut fitrahnya, manusia adalah mahluk beragama (homoreligius) atau memiliki potensi beragama, mempunyai keimanan kapada tuhan. Dalam perkembangannya, fitrah beragama ini ada yang berjalan secara alamiah dan ada yang mendapat bimbingan dari agama sehingga fitrahnya itu berkembang secara benar sesuai tuntunan agama.
2.             Faktor Eksternal
Perkembangan kesadaran beragama akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang memberikan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan yang memungkinkan kesadaran beragama itu berkembang dengan baik. Faktor lingkungan tersebut antara lain:
1.             Lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, peranan keluarga pun sangat dominan dalam pengembangan kesadaran beragama individu. Keluarga mempunyai peran sebagai pusat latihan atau pembelajaran anak untuk memperoleh pemahaman tentang nilai-nilai agama dan kemampuannya dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
2.             Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyan program yang sistematik dalam melaksanakan proses bimbingan, pengajaran, dan pelatihan kepada siswa agar mereka berkembang sesuai dengan potensinya secara optimal, baik menyangkut aspek fisik, psikis, sosial, maupun moral spiritual.
Dalam mengembangkan kesdaran beragama siswa, peranan sekolah sangat penting, peranan ini terkait dengan pengembangan pemahaman, pembiasaan mengimplementasikan ajaran-ajaran agama, serta sikap apresiatif terhadap ajaran atau hukum-hukum agama.
3.             Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat ini maksudnyaa adalah hubungan atau interaksi sosial dan sosiokultural yangh potensial berpengaruh terhadap perkembangan fitrah atau kesadaran beragama seseorang.
Seseorang akan cenderung berinteraksi dengan orang lain, apabila orang tersebut memiliki kepribadian yang baik, maka orang tersebut akan cenderung mengikuti kebaikannya, sebaliknya ketika orang lain tersebut berkepribadian tidak baik, maka ia pun akan memiliki kecederungan yang sama.

2.             Pengalaman Beragama
Pengalaman beragama merupakan pengalaman kerohanian, orang mengalami dunia sampai batasnya seakan akan menyentuh apa yang berada di luar duniawi. Pengalaman beragama yang khas itu merupakan tanda adanya tuhan dan sifat-sifat-Nya. Akan tetapi karena pengalaman itu dirasakan oleh manusia maka sering kali pengalaman kequdusannya menjadi dangkal.6
Pengalaman agama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragam, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah). Karenanya, psikologi agama tidak mencampuri segala bentuk permasalahan yang menyangkut pokok keyakinan suatu agama, termasuk tentang benar salahnya atau masuk akal dan tidaknya keyakinan agama. 7
Pengalaman keagamaan adalah suatu yang pasti dan tenang bahwa mereka mempunyai perhubungan dengan suatu zat, dan perhubungan ini memberikan arti untuk hidup.8

Laporan Tentang Pengalaman-pengalaman.
Laporan-laporan tentang pengalaman keagamaan dapat kita peroleh dari tiga sumber:
1.             Dari pengakuan orang-orang yang telah merasa berhubungan dengan tuhan, hal ini mungkin dengan lisan atau dengan tertulis.
2.             Autobiografi ahli-ahli agama. Biografi semacam itu biasanya merupakan rangkaian yang lebih teratur deri pada pengalaman seseorang semasa hidupnya.
3.             Apa yang terkandung dalam kumpulan doa-doa, wirid-wirid dan pujian-pujian, disukai orang sebab ia menunjukkan dan menggambarkan apa yang dirasa oleh manusia umum.

BAB III
PENUTUP

Dari materi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa kesadaran beragama selalu berkembang mulai anak-anak sampai remaja hingga tercapainya kematangan kesadaran beragama. Kematangan kesadaran beragma akan menunjukkan kematangan sikap seseorang dalam menghadapi berbagai masalah di masyarakat sehingga mempunyai arah tujuan hidup yang jelas.
Kesadaran beragama dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Dan faktor eksternal sendiri meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat, yang masing-masing mempunyai dampak tersendiri.
Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua, amin.

DAFTAR PUSTAKA

Jalaludin. Psikologi Agama. 2000. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Abidah dkk. Makalah Kesadaran Beragama dan Pengalaman Beragama. 2010.
Rasjidi. Filsafat Agama. 1965. Jakarta: Bulan Bintang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

mari belajar bersama