Senin, 24 September 2012

PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA ORANG DEWASA


BAB I
PENDAHULUAN


1.1.      LATAR BELAKANG
Pada usia dewasa, banyak sekali perubahan-perubahan ataupun perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam kehidupannya. Termasuk didalamnya jiwa perkembangan agamanya. Semakin bertambah usia seseorang semakin bertambah pula kematangan dalam sikap beragama bagi mereka yang mempunyai agama.
Melihat betapa pentingnya hal tersebut untuk kita ketahui, maka di dalam makalah ini telah dipaparkan mengenai perkembangan jiwa keagamaan terkhusus pada orang dewasa. Yang mencakup didalamnya tentang bagaimana agama, ciri-ciri, dan kematangan keagamaan pada tingkat usia dewasa.


1.2.      RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana agama pada masa dewasa ?
2.      Bagaimanakah ciri-ciri sikap keberagamaan pada masa dewasa ?
3.      Bagaimanakah kematangan beragama pada masa dewasa ?

1.3.      TUJUAN
Dari rumusan masalah di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembahasan adalah :
1.      Untuk mengetahui agama pada masa dewasa.
2.      Untuk mengetahui ciri-ciri sikap keberagamaan pada masa dewasa.
3.      Untuk mengetahui kematangan beragama pada masa dewasa.



BAB II
PERKEMBANGAN JIWA AGAMA
PADA ORANG DEWASA


2.1.      AGAMA PADA MASA DEWASA
Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi 3 (tiga) bagian :
1.      Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult).
2.      Masa dewasa madya (middle adulthood).
3.      Masa usia lanjut (masa tua/older adult).
Pembagian senada juga diungkap oleh beberapa ahli psikologi Lewis Sherril, membagi masa dewasa sebagai berikut :
a.       Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
b.      Masa dewasa tengah, sudah mulai menghadapi tantangan hidup sambil memantapkan tempat dan mengembangkan filsafat danmengolah kenyataan dengan kata lain mencapai pandangan hidup yang matang.
c.       Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ”pasrah”. Pada masa ini minat dan kegiatan kurang beragama.
Sementara menurut Erikson, masa dewasa muda merupakan pengalaman menggali keintiman, kemampuan untuk membaur identitas anda dengan identitas orang lain tanpa takut bahwa anda akan kehilangan sesuatu dari diri anda.
Masa dewasa tengah merupakan masa produktivitas maksimum. Pada masa ini kekuatan watak yang muncul perhatian, rasa prihatin dan tanggung jawab.
Masa dewasa akhir, merupakan masa kematangan masalah sentral dalam masa ini adalah menemukan kepuasan bahwa hidup yang dijalaninya merupakan penemuan dan penyelesaian pada masa tua, terjadi integrasi emosional sehingga dapat mencapai kebijaksanaan.
Dalam memahami agama pada masa dewasa, H. Carl Witherington menjelaskan bahwa pada masa ini seseorang telah memiliki tanggung jawab terhadap sistem nilai yang dipilihnya, baik sistem yang bersumber pada ajaran-ajaran agama maupun yang bersumber pada norma-norma lain dalam kehidupan. Dengan demikian, keagamaan di usia dewasa sulit diubah.
Kesadaran beragama pada usia dewasa merupakan dasar dan arah dari kesiapan seseorang untuk mengadakan tanggapan, reaksi, pengolahan dan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang datang dari luar semua tingkah laku kehidupannya diwarnai oleh sistem kesadaran agamanya.
Motivasi beragama pada orang dewasa didasarkan pada penalaran yang logis, sehingga ia akan mempertimbangkan sepenuhnya menurut logika. Dan sama halnya dengan ekspresi beragama pada masa dewasa juga sudah menjadi hal yang tetap, istiqomah. Artinya, sudah tidak percaya ikut-ikutan lagi, tapi lebih berdasar pada kepuasan atau nikmat yang diperoleh dari pelaksanaan ajaran agama tersebut.

2.2.      CIRI-CIRI SIKAP KEBERAGAMAAN PADA MASA DEWASA
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, sikap keberagaman pada orang dewasa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
2.      Cenderung bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
3.      Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
4.      Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagaman merupakan realisasi dari sikap hidup.
5.      Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
6.      Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan nurani juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
7.      Sikap keberagaman cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
8.      Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagaman dengan kehidupan sosial keagamaan sudah berkembang.

2.3.      KEMATANGAN BERAGAMA
Berbicara tentang kematangan beragama akan terkait erat dengan kematangan usia manusia. Adapun mengenai perkembangan kepribadian seseorang, apabila telah sampai pada suatu tingkat kedewasaan, maka akan ditandai dengan kematangan jasmani dan rohani. Pada saat inilah seseorang sudah memiliki keyakinan dan pendirian yang tetap dan kuat terhadap pandangan hidup atau agama yang harus dipeganginya.
Kematangan atau kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya.
Dalam rangka menuju kematangan beragama terdapat beberapa hambatan. Karena tingkat kematangan beragama juga merupakan suatu perkembangan individu, hal itu memerlukan waktu, sebab perkembangan kepada kematangan beragama tidak terjadi secara tiba-tiba. Pada dasarnya terdapat dua faktor yang menyebabkan adanya hambatan, yaitu :
1.      Faktor diri sendiri
Faktor dari dalam diri sendiri terbagi menjadi 2 (dua) : kapasitas diri dan pengalaman. Dalam aktivitas keagamaan mereka penuh keraguan dan kebimbangan. Sehingga apabila terjadi perubahan-perubahan tidaklah melalui proses berpikir sebelumnya, tetapi lebih bersifat emosional.
Sedangkan faktor pengalaman, semakin luas pengalaman seseorang dalam bidang keagamaan, maka akan semakin mantap dan stabil dalam mengerjakan aktivitas keagamaan.
2.      Faktor luar
Yang dimaksud faktor luar, yaitu beberapa kondisi dan situasi lingkungan yang tidak banyak memberi kesempatan untuk berkembang, malah justru menganggap tidak perlu adanya perkembangan dari apa yang telah ada. Faktor-faktor tersebut antara lain tradisi agama atau pendidikan yang diterima.
Jika kita amati secara seksama, tampaknya kematangan atau kedewasaan dalam beragama itu merupakan perkembangan lebih lanjut dari adanya konversi agama, disamping juga mungkin mengikuti perkembangan kepribadiannya yang semakin lama semakin menuju kepada kedewasaan yang termasuk didalamnya kematangan dalam beragama.
Berkaitan dengan sikap keberagaman, William Starbuck dan William James, mengemukakan dua buah faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan seseorang, yaitu :
1)      Faktor intern, terdiri dari :
a.       Temperamen
Tingkah laku yang didasarkan pada temperamen tertentu memegang peranan penting dalam sikap beragama seseorang.
b.      Gangguan jiwa
Orang yang menderita gangguan jiwa menunjukkan kelainan dalam sikap dan tingkah lakunya. Tindak tanduk keagamaan dan pengalaman keagamaan seseorang yang ditampilkan tergantung pada gangguan jiwa yang ditampilkan tergantung pada gangguan jiwa yang mereka rasakan.
c.       Konflik dan keraguan
Mempengaruhi terhadap agama seperti : taat, fanatic, agnotis maupun ateis.
d.      Jauh dari tuhan
Orang yang jauh dari tuhan akan merasa dirinya lemah dan kehilangan pegangan hidup terutama saat menghadapi musibah.
2)      Faktor ekstern
Yang mempengaruhi sikap keagamaan secara mendadak adalah :
a.       Musibah
Musibah yang dialami seseorang akan memunculkan kesadaran, khususnya kesadaran keagamaan. Mereka merasa mendapatkan peringatan dari tuhan.

b.      Kejahatan
Mereka yang hidup dalam lembah hitam umumnya mengalami guncangan batin dan merasa berdosa. Sering perasaan yang fitri menghantui dirinya, yang kemudian membuka kesadarannya untuk bertobat, yang pada akhirnya akan menjadi penganut agama yang taat dan fanatik.
Adapun ciri-ciri orang yang sehat jiwanya dalam menjalankan agama antara lain :
a)      Optimisme dan gembira.
b)      Ekstrovet dan tidak mendalam.
c)      Menyenangi ajaran ketahuidan yang liberal.
Dalam kemantapan jiwa orang dewasa memberikan gambaran tentang bagaimana sikap keberagaman pada orang dewasa. Mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap sistem nilai yang dipilihnya, baik sistem nilai yang bersumber dari norma-norma lain dalam kehidupan. Intinya, pemilihan nilai-nilai tersebut telah didasarkan atas pertimbangan pemikiran yang matang. Berdasarkan hal ini, maka sikap keberagaman seorang di usia dewasa sulit untuk diubah. Jikapun terjadi perubahan mungkin proses itu terjadi setelah didasarkan atas pertimbangan yang matang.
Sebaliknya, jika nilai-nilai agama yang mereka pilih dijadikan pandangan hidup, maka sikap keberagaman akan terlihat pula dalam pola kehidupan mereka. Sikap keberagaman ini membawa mereka secara mantap, menjalankan agama yang dianut. Sehingga, tak jarang sikap keberagaman ini dapat menimbulkan ketaatan yang berlebihan dan menjurus kepada sikap fanatisme. Karena itu, sikap keberagaman seorang dewasa cenderung didasarkan atas pemilihan terhadap ajaran agama yang dapat memberikan kepuasan batin atas dasar pertimbangan akal sehat.
Sikap keberagaman orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu, sikap keberagaman ini umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengertian dan perluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Beragama, bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan.

BAB III
PENUTUP


3.1.      KESIMPULAN
Menurut beberapa ahli psikologi masa dewasa dibagi menjadi 3, yaitu :
1.      Masa dewasa awal atau muda.
2.      Masa dewasa madya atau tengah.
3.      Masa dewasa akhir atau usia lanjut.
Mengenai agama pada masa dewasa telah dijelaskan bahwasanya pada masa ini seseorang memiliki tanggung jawab terhadap sistem nilai yang dipilihnya baik ajaran agamanya ataupun norma lainnya. Semua tingkah laku kehidupannya diwarnai oleh sistem kesadaran keagamaannya.
Adapun ciri-ciri sikap keberagaman pada masa dewasa diantaranya :
1.      Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang.
2.      Cenderung bersifat realis.
3.      Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha memperdalam keagamaan.
Dan mengenai kematangan beragama sangat erat kaitannya dengan usia dewasa ini, karena seiring dengan bertambahnya tingkat kedewasaan seseorang akan ditandai dengan kematangan jasmani dan rohaninya. Yang ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh terhadap agama yang dianutnya.

3.2.      SARAN
Dalam pembuatan makalah ini apabila ada keterangan yang kurang dipahami, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan kami sangat berterima kasih apabila ada saran dan kritik yang sifatnya membangun sebagai penyempurna dari makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA
Sururin. 2004. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Jalaludin. 2008. Psikologi Agama. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Darajat, Zakiah. 1993. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : Bulan Bintan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

mari belajar bersama